HOEGENG: Oase Menyejukkan Di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa

Despite of banyak informasi yang diulang-ulang di dalam buku ini, tapi buku ini layak dibaca. It is nice to know masih ada seseorang di dunia yang dekat dengan keluarga saya (baca: kepolisian) dengan pangkat tinggi senantiasa menjalankan prinsip hati nuraninya padahal kesempatan untuk “memperkaya” diri terbuka lebar dan sulit untuk dihindari.
Ada quote yang tertera di cover buku itu bunyinya begini:
“Hanya ada 3 polisi didunia ini yang tidak korupsi: Pak Hoegeng, patung polisi dan polisi tidur”
Tapi saya punya quote versi saya:
“Hanya ada 5 polisi didunia ini yang tidak korupsi: Pak Hoegeng, ayah saya, abang saya, patung polisi dan polisi tidur”
Ayah saya, mengajarkan saya selalu sederhana. Hingga ia pensiun dini karena kecelakaan motor yang dialaminya sehingga kakinya patah dan membuatnya berjalan pincang, tidak pernah kami memiliki mobil. Sekali-sekalinya punya motor pun membuat beliau kecelakaan. Satu-satunya harta yang dia miliki adalah sebidang tanah dan rumah yang dia beli sangat murah sekali dengan tabungan dari gajinya. Hasil kontrak rumah inilah yang membuat kami berempat menyelesaikan sekolah kami hingga perguruan tinggi.
Abang saya, diam-diam mendaftarkan diri masuk akabri. Bahkan kedua orang tua saya pun tidak tahu. Kecurigaan mereka muncul ketika abang saya selalu bangun ketika adzan subuh dan selesai sholat dia akan lari entah berapa putaran lapangan bola di komplek kami. Sebelumnya hanya olahraga basket yang ditekuni diklub basket di senayan yang dia tercatat sebagai anggota sejak dia kelas 3 SMP. Setelah diinterogasi dia mengaku sudah mendaftarkan dirinya masuk akabri, just in case dia ngga lulus UMPTN. Orang tua saya waktu itu kaget, komentarnya cuma sedikit saja, “Le (baca: thole, panggilan kesayangan abang saya dirumah), bapak ibu ngga punya uang untuk kamu masuk akabri”. Bisa dibayangkan kan maksudnya apa. Ayah saya tau persis bahwa kalo mau masuk polisi butuh “modal” yang besar, jangankan akabri mau masuk polisi dari level bintara aja tetangga-tetangga saya harus mengeluarkan uang hingga berpuluh-puluh juta demi memasukkan anaknya jadi polisi. Jawaban abang saya ketika itu: “ngga usah pake uang pak, kan namanya juga test ya dijalanin aja kalo lulus alhamdulillah, kalo ngga lulus ya ngga papa”
Modal ayah ibu saya ketika proses test abang saya berlangsung adalah puasa senin kamis dan sholat malam. Seperti kebanyakan orang jawa, ibu saya masih mempercayai ketika mempuasakan anaknya akan ampuh mengabulkan doa-doanya. Dari kakak saya yang tertua sampai adik saya yang termuda, setiap kami sedang melalui proses ujian, entah itu ebtanas, umptn, atau test-test interview diberbagai perusahaan, ibu saya akan mempuasakan kami. Ayah saya memang sudah rutin berpuasa senin kamis sejak dia didiagnosa mengidap diabetes.
Satu demi satu test dijalani abang saya, dan akhirnya lulus. Walaupun sebenarnya dia ingin masuk akmil dengan alasan supaya bisa jadi menteri (alasan ini sungguh-sungguh diucapkannya ketika interview penjurusan), tapi dia dipandang lebih cocok masuk akpol. Sejak dia lulus akpol dan mulai berdinas 12 tahun yang lalu, tidak satupun rumah pribadi dia miliki, mobil yang dia punya sekarang juga hasil kreditan yang baru berani dia ambil 5 tahun yang lalu. Pernah satu kali saya liat isi dompetnya, ngga ada isinya. Pernah juga satu kali saya menginap dirumah dinasnya, saya intip buku tabungannya isinya tidak membuat saya ternganga.
Saya sedih luar biasa ketika semua media memberitakan kpk vs polri. Ketika adik saya ikutan heboh bertanya masalah itu kepada abang saya dia terlihat resah juga, jawabannya cuma “udah deh de, ngga usah ditonton”. Saya bisa mengerti keresahannya, kenapa media ngga mengekspos buaya-buaya kere macam abang saya. Tapi seperti kata Pak Hoegeng, ketika kita berbuat baik orang tidak akan ingat, tapi ketika keburukan yang kita buat itulah yang akan diingat orang.
Saya ingat ketika abang saya pindah tugas dari polda sumsel ke polres batu raja ogan komering ulu, dia mengirimkan sms ke saya. Isinya singkat:
“De, doain aku ya aku mau pindah lagi ke polres batu raja”
Jawaban saya:
“Oke mas, jangan jadi polisi korup ya!”
Jawaban abang saya:
“Iya insya Allah, doain aku terus ya”
Pasti! Akan selalu saya ingatkan dan doakan!