Aaarrrggghh… i hate to present something that is not me who prepare the materials because it will be a mess, BIG MESS!!!
Bukan untuk pembelaan diri, tapi ini hanya untuk guidelines diriku sendiri ketika harus dimintai pertanggung jawaban atas apa yang sudah diputuskan dan tertera di dalam minutes of meeting.
02 Nov 09: Leaving Balikpapan
03 Nov 09: Breakfast time. Salahsatu teman dari team yang sama menerima telfon dari team lain yang intinya meinta bantuan tim kami untuk memberikan penjelasan tambahan yang diminta pihak otoriti. Karena jika ini tidak dilakukan pagi itu juga maka pihak otoriti tidak akan menandatangani notulen rapat dengan team tersebut.
Kami sepakat, ganti baju langsung berangkat ke hotel tempat meeting
Sesi pagi
Di hotel, kami diminta untuk menemui bapak yang bertanggung jawab untuk team yg menelpon kami. Maka setelah bertemu beliau, kami diperkenalkan kepada bapak pihak otoriti yang membutuhkan penjelasan tambahan. Dari 3 lapangan yang harus memberikan penjelasan, ada 1 lapangan yang sesi presentasinya baru keesokan harinya (tgl 4). Tapi bapak penanggung jawab team tsb tidak mau menunggu sampai besok untuk penjelasannya, harus pagi ini juga kata beliau. Beliau menambahkan lagi, cuma gara2 secuil budget kita ngga dapet approval keseluruhan budget, jadi tolong minta presentasi dari lapangan itu dan salahsatu dari kalian yang presentasi. Akhirnya dengan terpaksa, kami mengiyakan. Sialnya saya lah yang kebagian presentasiin sumur dari lapangan itu… Hasilnya pihak otoriti tidak menyetujui rencana pekerjaan disumur ini, tapi masih bisa dimasukkan dalam revisi anggaran. Sebelum dimasukkan ke notulen rapat, saya menelfon engineer yang mengirimkan presentasinya ke saya, dan dia seems ok dengan keputusan pihak otoriti. Semua sepakat, dan masuklah option itu ke minutes of meeting. But still, it is not approved, and i did the presentation
Sesi siang
Setelah kebetean hasil rapat di pagi hari, saya sedikit terkecoh dengan awal kelancaran rapat di sesi siang. Di awal rapat semua terasa baik-baik saja. Tapi ketika masuk ke dalam agenda budget untuk study abroad. Here comes the worst part. Semua pertanyaan mengenai item-item di presentasi itu yang lagi-lagi bukan saya yang buat terasa sangat detail. Btw, prolognya kenapa presentasi ini ngga jadi dipresentasiin sama yang bikin karena kebetulan warna kulitnya beda sama kita, sementara pihak otoriti maunya yang lancar bahasa pribumi. Ndilalahnya lagi kok ya si orangnya punya masalah sama ijin kerja di indonesia. Ya sudahlah tertimpalah saya. Pertanyaan detail dari pihak otoriti ini sungguh bikin sakit perut. Dari 7 item yang saya presentasikan, ngga ada satupun disetujui budgetnya. Lemes….
Ketika ada kesempatan, saya melakukan approach ke dua. Diulang lagi dari item no 1 sampe no 7. Sedikit kemajuan , item 2 dan 6 pending tapi masih bisa dimasukkan dlm revisi budget, item 1 dan 3 dan 4 diubah menjadi studi dalam negeri, item 5 dirubah formatnya, item 7 dimasukkan ke budget bagian lain. Alhamdulillah…
Lapor ke Balikpapan
Hmmmm… cape dengernya, merepet aja si pakde. Dia pikir semudah membalikkan telapak tangan untuk bisa dapetin uang negara Indonesia!! Saya sendiri aja dengan sadar tidak bisa menerima presentasi ini karena bertentangan dengan hati nurani, apalagi pihak otoriti yang jelas2 pemegang kendali. Tapi ya sudah saya dengarkan ocehan dia
Melakukan approach ketiga ketika ada kesempatan lagi. Sungguh memilukan dengan kerendahan hati saya minta direview lagi dengan bapak pihak otoriti, alhamdulillah mereka mau. Diulang lagi dari item 1 – 7. Bedanya hanya di item 1 yang sebelumnya merupakan studi luar negeri bisa di approve asal ada klarifikasi dari kita. Langsung lapor ke Balikpapan, minta detail yang diminta bapak itu. Gini aja dong jawabannya:
” gimana kita bisa ngasi detailnya kalo definisi pekerjaan itu hanya asistensi dan QC?”
Saya cuma bilang: “whatever, mereka minta detail, kalo kita ngga bisa kasi jangan harap ada approval. Tapi kalo kalian mau saya untuk coba approach lagi ke mereka, fine saya akan lakukan. Apa sih yang ngga buat kalian??
Menjelang jam 5.30 sore, membuat janji sama bapak pihak otoriti untuk diberikan kesempatan sekali lagi. Dan beliau setuju, pagi 4 november jam 8 kita bertemu kembali
Pembatalan tiket to BPN, diganti Rabu sore, semua penuh. Dapetnya Kamis sore jam 3. Oke.. Sudah terlalu lelah untuk argue.
4 Nov 09: kembali mereview dengan mereka, item 1 tetap menjadi study abroad tapi dipotong budgetnya sampai setengah kali. Yang lain tetap aja ngga ada perubahan. Sudah saya duga, sampe saya berbusa-busa menjelaskan juga memang ngga akan berubah. Kebijakan mereka jelas, bisa dipahami. Tidak boleh sembarangan menggunakan uang negara untuk membayar mereka yang katanya lebih ahli dari kita
Jam 4h30 sore, minutes of meeting selesai. semua lega.
Telfon-telfon-an sama travel agent karena saya ingin pulang malam ini juga ke balikpapan. Kangen sekali sama Faiz..
Tidak juga ada seat sampai besok siang jam 1h20.
Baiklah aku sudah terlalu lelah, dan tidak sanggup menunggu besok untuk memeluk Faiz-ku tercinta. Jadi aku putuskan:
” Mba, tolong diupgrade ke bisnis. Aku ngga peduli kalo harus bayar sendiri yang penting bisa pulang malam ini”
And here I am, in executive lounge cengkareng airport…